Kamis, 22 September 2011

Setiap 1 jam seorang wanita Indonesia meninggal karena kanker serviks

Kondisi penyakit Kanker leher rahim (Serviks) pada stadium dini yang memiliki gejala tidak khas atau bahkan tak bergejala serta kurangnya kesadaran masyarakat dalam upaya mencegah berkembangnya penyakit ini menjadi salah satu penyebab masih tingginya kasus kanker serviks di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan pembicara, Dr. H. Hasto Wardoyo SpOG. KFER dalam Seminar “Kanker Serviks dan Pencegahannya” yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran- Universitas Muhammadiyah Yogyakarta  (FK–UMY) dengan Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI), di Kampus Terpadu UMY, Senin (2/11).

Menurutnya, kanker serviks ini dapat dialami oleh siapa saja yang pernah berhubungan seksual dengan orang yang terinfeksi Human Papilloma Virus (HPV). Infeksi HPV ini tidak menunjukkan gejala sehingga tidak disadari kehadirannya dan dapat bertahan lama meskipun tidak melakukan hubungan seksual lagi. ”Meskipun penyakit ini dapat menyerang pria dan wanita, namun kasus dengan penderita wanita lebih banyak ditemukan,” tutur Hasto.

Meskipun pada stadium dini gejala tidak khas atau bahkan tidak bergejala, namun pada stadium lanjut, penderita kanker serviks dapat melihat gejala seperti terjadinya perdarahan setelah melakukan hubungan seksual, munculnya keputihan, perdarahan setelah menopause, keluar cairan kekuningan berbau yang bercampur dengan darah. Keberhasilan pengobatan kanker leher rahim besar apabila diketahui pada stadium dini,” tegas Hasto.

Akibatnya, di dunia ini seorang wanita meninggal karena kanker serviks dalam setiap dua menitnya dan di Asia Pasifik, setiap empat menit, seorang wanita meninggal dalam kasus yang sama. ”Kejadian kanker leher rahim di dunia merupakan kanker kedua terbanyak pada wanita dan terdapat 500 kasus baru per tahunnya,” ungkap Hasto.

Sementara di Indonesia, kejadian kanker serviks mencapai prevalensi (Angka Kejadian) hingga 90-100 kasus per 100 ribu penduduk, dimana ditemukan 200.000 kasus baru tiap tahunnya dengan kondisi bahwa setiap 1 jam seorang wanita meninggal karena kanker serviks.

“Kanker serviks menjadi penyakit kanker terbanyak di negeri ini dan hampir 70% telah mencapai stadium lanjut karena umumnya pasien sudah menderita lebih dari stadium IIB. Pada usia 15-64 tahun, wanita Indonesia yang berisiko menderita kanker serviks mencapai 58 juta, sedangkan pada usia 10-14 tahun, sekitar 10 juta wanita mengalami kasus yang sama,” terang Hasto.

Lebih lanjut, Hasto menambahkan, perjalanan kanker leher rahim dari pertama kali terinfeksi hingga menjadi kanker memerlukan waktu sekitar 10-15 tahun. „Sehingga penderita kanker leher kebanyakan berusia lebih dari 40 tahun,“ tambahnya.

Faktor risiko kanker serviks ini terjadi jika para penderita sering berganti pasangan seksual, melakukan hubungan seksual pada usia kurang dari 20 tahun, kebiasaan merokok, kondisi saat menurunnya sistem imun, dan adanya riwayat dari ibu atau saudara perempuan yang terkena kanker serviks sebelumnya.

Banyaknya kejadian yang menimpa wanita Indonesia dalam kanker serviks ini dibandingkan dengan para wanita di negara maju, diakui Hasto karena kurangnya kesadaran para wanita untuk mencegah berkembangnya penyakit ini. “Padahal kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang paling dapat dicegah dan paling dapat disembuhkan dari semua jenis kanker, asalkan penyakit tersebut diketahui pada stadium dini, sehingga deteksi dini merupakan hal yang sangat penting,” terangnya.

Hasto mengungkapkan, deteksi dini untuk mencegah kanker serviks dapat dilakukan dengan cara pemberian vaksin secara berkala setiap tiga tahap pemberian, yaitu pada bulan ke 0, 1 atau 2, dan 6. Selain itu, Screening juga menjadi alternatif bagi deteksi dini penyakit tersebut. “Vaksinasi dengan screening melalui pap smear bersama-sama dapat mengurangi kejadian kanker serviks secara efektif,” tandasnya.






0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls